slothis · Bahasa Indonesia

Melihat Kasus Peretasan Perusahaan Korea Belakangan Ini

2025-09-19 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Harga dalam tanda kurung adalah konversi perkiraan. Baca tulisan asli bahasa Korea →


Menyusul insiden peretasan server KT (perusahaan telekomunikasi Korea) dan Lotte Card baru-baru ini, serta kasus SKT dan SBI Savings Bank sebelumnya, insiden kebocoran data di perusahaan-perusahaan raksasa seolah tidak ada habisnya. Kasus-kasus ini cukup mengerikan karena mungkin bukan sekadar hasil peretasan sesaat, melainkan hasil kerja terencana selama bertahun-tahun. Sebenarnya apa yang salah sampai hal seperti ini terus berulang?

Masalah umum yang saya rasakan dari pengalaman bekerja di berbagai perusahaan adalah 'tidak ada perusahaan yang benar-benar peduli dengan keamanan'. Perusahaan di sini bukan cuma jajaran direksi atau departemen tertentu saja, tapi 'perusahaan itu sendiri' yang mencakup dewan direksi, seluruh karyawan, bahkan sampai staf subkontraktor dan petugas kebersihan. Kebiasaan menulis kata sandi di sticky notes, membagikan kata sandi lewat aplikasi chat, atau memakai Wi-Fi publik—aturan keamanan paling dasar yang harus dipatuhi di kantor sering kali runtuh begitu saja hanya karena alasan, "Lagi sibuk banget, mana sempat mikirin yang begituan." Saya rasa masyarakat Korea saat ini, atau bahkan semua negara di tahun 2025, masih sangat kurang pemahaman dasarnya soal keamanan IT.

Pemerintah memang mendorong investasi terkait keamanan IT, tapi menurut saya itu cuma pemikiran dangkal yang tidak menyentuh akar masalah. Saat ini, staf keamanan IT menerima gaji paling rendah dan suara mereka kurang didengar di dalam perusahaan. Dibandingkan dengan staf sales atau developer yang 'menghasilkan uang', staf keamanan yang 'menjaga uang' tidak dihargai semestinya. Coba bayangkan kalau ada karyawan yang menulis kata sandi di buku catatan pribadinya atau memfotonya. Di sektor keuangan yang sangat mengutamakan keamanan, hal itu seharusnya cukup untuk jadi alasan pemecatan, tapi pada kenyataannya, sangat sulit membayangkan ada orang yang benar-benar diberi sanksi karena hal itu. Kalau dibandingkan dengan sanksi untuk kasus pelecehan seksual, kita bisa melihat dengan jelas betapa rendahnya standar masyarakat kita terhadap masalah keamanan.

Menurut saya, satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini, baik dalam jangka pendek maupun panjang, adalah dengan hukuman dan tanggung jawab yang tegas. Kalau kasus ini terjadi di Amerika Serikat, SKT pasti sudah harus membayar denda dan kompensasi hingga triliunan won (sekitar belasan triliun rupiah). Kasus KT dan Lotte Card adalah masalah serius yang bisa berujung pada transaksi penipuan, sehingga pengadilan seharusnya mempertimbangkan untuk menutup perusahaan tersebut. Dari perusahaan besar hingga UKM atau pedagang kecil, kalau ada insiden kebocoran data, mereka harus dimintai pertanggungjawaban yang berat. Hanya dengan begitu masyarakat kita akan menyadari pentingnya keamanan IT dan mulai menghargai nilai para staf keamanan. Sekarang orang-orang cuma mau berinvestasi pada staf yang menghasilkan uang, tapi ke depannya mereka juga harus sadar betapa pentingnya staf yang menjaga uang.

Beberapa orang mungkin berpikir masalah ini cuma terjadi di sektor keuangan, tapi apa benar begitu? Di era AI ini, apakah upaya untuk melindungi data-data penting sudah dilakukan dengan benar? Jangan-jangan bank, perusahaan sekuritas, bursa kripto, atau bahkan infrastruktur pemerintah sebenarnya sudah kebobolan. Contoh terbaik yang bisa kita jadikan referensi adalah budaya keamanan di perusahaan konglomerat manufaktur. Mereka sangat ketat mencegah bocornya teknologi perusahaan melalui karyawan internal. Kalau ada yang ketahuan membawa keluar cetak biru, entah itu direktur atau manajer senior, tanpa terkecuali akan diserahkan ke polisi. Ada yang bilang itu bisa dilakukan karena server perusahaan manufaktur terputus dari jaringan luar, tapi pada akhirnya, mereka bertindak tegas karena tahu seberapa besar 'dampak' dari kebocoran tersebut. Sama halnya dengan kebocoran data pribadi, kalau masyarakat kita benar-benar menyadari dampak dan efek dominonya serta memperkuat sanksi hukuman, keamanan IT tidak akan lagi dianaktirikan.

Saya sempat menyuruh Gemini untuk mengedit tulisan ini, tapi hasilnya malah jadi bikin merinding (cringe). Karena bukan gaya bahasa saya, rasanya jadi aneh sekali.