slothis · Bahasa Indonesia

Old Town White Coffee, Starbucks-nya Kota Kinabalu

2017-12-03 · Diperbarui: 2026-08-11 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →

Karena sudah selesai makan walau hanya sekadarnya, seperti biasa aku menunggu hujan reda sambil minum kopi. Tepat di sebelah Fook Yuen, ada Old Town White Coffee yang menjadi kebanggaan Pulau Sabah. Kedai kopi ini bisa dibilang 'Starbucks-nya Kota Kinabalu' seperti judul di atas, saking ikoniknya tempat ini. Kalau mencari 'tempat makan enak di Kota Kinabalu', ada banyak ulasan tentang white coffee di sini, jadi aku memang sudah berniat untuk mencobanya dan kebetulan waktunya pas.

Eksterior bangunan dengan papan nama Old Town White Coffee dan mobil-mobil yang diparkir di depannya.
Papan nama bulat berwarna cokelat dari Old Town White Coffee yang terpasang di dinding luar bangunan berwarna putih.
Pintu masuk toko dengan papan nama logo bulat Old Town White Coffee dan seseorang yang sedang berdiri.
Mungkin lebih terkenal di kalangan orang asing, karena sebagian besar pelanggannya adalah orang Tiongkok dan Korea.
Papan menu yang berisi foto dan harga berbagai minuman kopi dan teh.
Harganya sama dengan harga satu porsi makanan.
Kotak tisu kuning berlogo Old Town White Coffee dan tempat kertas pesanan yang terletak di atas meja.
Cara pesannya, cukup tulis angka dengan pensil di kertas yang terlihat di sini, lalu berikan kepada pelayan. Tingkat keramahan pelayannya sangat tinggi, sampai-sampai terasa seperti di restoran, bukan sekadar kedai kopi.
Bagian dalam toko dengan poster makanan menempel di dinding dan beberapa orang duduk di meja.
Sebenarnya bisa minum di luar, tapi karena terlalu panas aku masuk ke dalam. Katanya kalau datang di waktu yang kurang pas, kita harus menunggu lama.
Segelas es kopi dingin yang penuh dengan busa dan es batu.
Segelas es kopi susu dingin dengan sedotan yang terletak di atas meja putih.
White Coffee

Kesanku setelah minum white coffee ini, rasanya sangat manis sampai-sampai orang buta pun bisa terbelalak sesaat. Bagi orang yang biasanya suka "satu krimer dua gula" di Korea atau "banyak sirup" di Starbucks, pasti akan sangat menikmati kopi ini. Tapi, kalau diminum sebelum makan, rasanya bisa merusak selera makan, jadi pastikan untuk meminumnya sebagai hidangan penutup. Aku dengar biji kopinya lumayan bagus, tapi karena rasanya sangat manis sampai menutupi rasa asli biji kopinya, tidak usah terlalu dipikirkan dan langsung teguk saja. Mumpung lagi di Kota Kinabalu, cobalah mampir ke Old Town alih-alih Starbucks. Beneran deh, orang buta saja bisa melek sesaat.

Eksterior masjid dengan kubah biru dan empat menara tinggi di bawah langit mendung.

Kopinya sudah habis, tapi hujan sepertinya tidak mau berhenti. Walau begitu, untuk berjaga-jaga aku tetap naik mobil ke Blue Mosque (Masjid Bandaraya), tapi karena hujan deras aku bahkan tidak bisa mendekat ke masjidnya. Rasanya agak hampa saat menyerah dan kembali ke penginapan. Tapi, sambil menunggu Uber dan berpikir dari sudut pandang lain, menyerah dengan mudah seperti ini sepertinya juga bukan cara jalan-jalan yang buruk.



Pengeluaran (kalau dihitung konservatif dikali 300 Won untuk konversi ke uang Korea)

Pengeluaran hari ini : RM 330.42

Total pengeluaran liburan : 2,875,000 KRW + RM 1050.83