slothis · Bahasa Indonesia

Kafe Warang Warang Seogwipo: Kopi Wajib di Olle Course 5

2021-12-29 · Diperbarui: 2026-08-11 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →

Meskipun saya berjalan santai menyusuri Jeju Olle Trail, ada kalanya saya ingin beristirahat sejenak. Saat itulah mata saya tertuju pada sebuah patung unik di atas atap di dekat habitat bunga camellia. Ternyata itu adalah Warang Warang, kafe yang terkenal dengan kopinya di daerah ini. Karena sudah lama ingin mencobanya, saya pun langsung masuk tanpa ragu.

Eksterior kafe dengan dekorasi kucing di atas atap dan papan nama bertuliskan Warang Warang

Sebagai kafe lokal Jeju, ada banyak pilihan minuman berbahan dasar jeruk keprok (tangerine). Tapi karena secara pribadi saya kurang suka minuman jeruk, saya memesan Einspänner. Saya juga memesan kue beras ketan panggang (chal-tteok-gui) yang katanya wajib dicoba kalau datang ke sini.

Papan menu tulis kapur kafe dengan dekorasi kucing hitam di atasnya
Papan tulis hijau kecil yang bertuliskan harga berbagai jenis biji kopi

Pemandangan ke luar dari meja bar dekat jendela di bagian dalam kafe sangat bagus. Sayangnya, karena pengunjung sedang sangat ramai, saya tidak bisa memotretnya. Sesuai dengan lokasinya yang berada di tengah jalur Olle Trail, banyak pengunjung yang datang sendirian maupun berpasangan. Pilihan minuman mereka memang berbeda-beda, tapi lucu rasanya melihat setiap meja pasti memesan satu porsi kue beras panggang.

Saat kopinya disajikan, saya mencoba menyesapnya sedikit dan rasanya benar-benar sangat lembut. Bahkan di Seoul pun saya belum pernah minum Einspänner dengan suhu dan kelembutan yang sesempurna ini. Rasa kopinya sendiri sudah enak, dan saat diminum bersama krimnya, rasanya ingin terus saya simpan di dalam mulut. Biasanya kafe-kafe di Jeju hanya mengandalkan pemandangan dan rasa kopinya mirip-mirip di mana saja, tapi saya ingin memberi nilai tinggi untuk kopi di Warang Warang.

Secangkir latte hangat dengan busa tebal di atas meja kayu

Kue beras panggangnya ditaburi bubuk kedelai yang manis dan gurih, memberikan kesan menyantap camilan bernuansa vintage. Mungkin karena saya sudah berjalan jauh, setengah porsi pertama terasa sangat nikmat, tapi setelah itu saya mulai merasa haus dan sedikit cepat bosan. Sepertinya satu porsi akan sangat pas jika dinikmati berdua.

Mulai dari cangkir, piring, hingga sendoknya, tidak ada satu pun yang tidak memiliki ciri khas. Tempat ini dikenal sebagai salah satu spot yang wajib dikunjungi saat menyusuri Olle Course 5, dan sebutan itu memang ada benarnya.

Chalteok (kue beras ketan) panggang yang ditaburi banyak bubuk kedelai disajikan di atas piring bermotif
Chalteok (kue beras ketan) panggang bertabur bubuk kedelai dan secangkir latte hangat yang diletakkan berdampingan
Sebuah tas hitam diletakkan di kursi dekat jendela kafe yang menghadap ke ladang hijau dan pepohonan
Bagian dalam kafe dengan tanaman hijau terlihat di luar jendela dan pot tanaman kecil di atas meja
Pemandangan hijau yang terlihat dari balik pintu kaca berbingkai kayu dengan lampu kuning yang menyala
Meja dan kursi kayu di depan jendela dengan tirai putih bersulam bunga
Kotak kertas, kopi drip bag, dan ornamen berbentuk daun yang dipajang di rak kayu
Sabun buatan tangan dan barang-barang kemasan yang dipajang di rak besi
Meja bar dan kursi di dekat jendela dengan pemandangan pepohonan hijau dan ladang di luar
Bangku kayu dan meja makan kecil yang diletakkan di sebelah bunga geranium merah di depan dinding batu
#KafeJeju #RekomendasiKafeSeogwipo #ReviewJujur #KafeCantikJeju