slothis · Bahasa Indonesia

Jalan Kaki dari Balboa Park ke Petco Park San Diego

2026-08-29 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →

Setelah selesai jalan-jalan di taman damai yang terasa seperti di Eropa sebelumnya, aku memutuskan untuk berjalan kaki ke Petco Park di pusat kota. Cuaca San Diego di awal Januari sangat luar biasa untuk berjalan kaki. Langitnya biru tanpa awan dan udaranya cukup sejuk, kondisi yang sangat pas untuk jalan santai.

Keluar dari taman, aku mulai berjalan di atas jembatan besar. Di kejauhan terlihat pemandangan gedung-gedung tinggi yang berpadu dengan pohon palem yang menjulang, menciptakan pemandangan yang cukup keren di bawah sinar matahari.

Pemandangan pohon palem dan gedung-gedung bertingkat di pusat kota San Diego yang dilihat dari atas jembatan.

Di bawah jembatan, terbentang jalan tol besar yang membelah San Diego. Melihat mobil-mobil melaju kencang dari atas sini, aku baru benar-benar sadar kalau aku sedang berada di Amerika yang wilayahnya sangat luas.

Pemandangan jalan raya yang luas dengan mobil-mobil yang melaju di bawah langit cerah.

Setelah menyeberangi jembatan, aku berjalan menyusuri jalan yang menghubungkan area perumahan dan taman. Terlihat lapangan bisbol lingkungan yang kosong, bangku birunya dan rumput hijaunya tampak begitu damai. Mungkin orang-orang sekitar berkumpul di sini untuk bermain lempar tangkap bola saat akhir pekan.

Lapangan bisbol berumput hijau dan kursi penonton yang kosong terlihat dari balik pagar kawat.

Sambil terus berjalan, gedung-gedung bernuansa pusat kota mulai terlihat semakin dekat. Aku melangkah dengan gembira menyusuri jalan yang tertata rapi dengan pohon-pohon besar di pinggir jalan dan marka jalur sepeda. Kakiku rasanya sudah mulai pegal, tapi karena asyik melihat-lihat sekitar, aku terus saja berjalan.

Jalanan pusat kota yang sepi dengan pepohonan dan jalur sepeda, serta gedung-gedung yang terlihat di kejauhan.

Semakin masuk ke pusat kota, transportasi umum semakin banyak terlihat. Aku melihat bus merah berhenti di halte, dan aku menatapnya dengan takjub karena itu adalah bus gandeng dua gerbong yang jarang ada di Korea.

Bus gandeng panjang berwarna merah yang berhenti di halte sebelah taman pusat kota.

Namun, saat memasuki area pusat kota, suasananya berubah drastis. Tenda-tenda mulai terlihat satu per satu di lahan kosong seberang jalan dan di trotoar, hingga akhirnya membentuk sebuah perkampungan tenda. Di hari yang cerah seperti ini, pemandangan tenda-tenda tunawisma yang kontras dengan gedung-gedung modern yang megah terasa sangat asing, bahkan membuatku merasa aneh.

Tenda-tenda tunawisma yang berjejer di pinggir jalan di seberang tempat penyeberangan dengan lampu lalu lintas.

Kenapa di negara kaya seperti Amerika bisa ada begitu banyak tunawisma dan semuanya tinggal di tenda di pinggir jalan? Entah karena harga rumah yang terlalu mahal sehingga mereka tersingkir atau karena masalah narkoba, melihat deretan tenda di sepanjang jalan membuatku langsung berpikir bagaimana caranya mereka bisa hidup di sini.

Saat melewati area tenda itu, aku bahkan berpapasan dengan orang yang tidak bisa mengendalikan tubuhnya seperti zombi fentanil. Tiba-tiba aku merasa sangat terancam dan tubuhku langsung kaku. Takut tidak sengaja bertatapan, aku hanya menunduk melihat tanah dan berjalan sangat cepat setengah berlari. Boro-boro mau memotret, trem merah yang lewat di sebelahku saja sampai tidak terlalu kuperhatikan.

Trem merah San Diego Trolley yang melintas di jalan depan gedung apartemen modern.

Setelah berjalan sambil terengah-engah, akhirnya stadion Petco Park yang besar muncul di depan mata. Begitu melihat bata cokelat muda dan logo Padres yang besar, keteganganku baru mereda dan rasa lega pun datang.

Bagian luar stadion bisbol Petco Park yang menampilkan logo Padres dan foto-foto pemain.

Syukurlah aku tiba di stadion kandang San Diego dengan selamat, tapi sepanjang jalan rasanya seperti naik rollercoaster. Korea juga punya masalah tunawisma, tapi biasanya mereka berkumpul di tempat-tempat seperti Stasiun Seoul, dan para tunawisma itu sendiri banyak yang berusaha memperbaiki diri. Setidaknya dalam hal ini, menurutku Korea jauh lebih baik. Saat berjalan di pusat kota, suasananya bisa berubah drastis tergantung areanya, jadi aku sarankan sebaiknya naik Uber saja. Atau mungkin aku saja yang terlalu berlebihan karena selama ini selalu tinggal di tempat yang sangat aman.