slothis · Bahasa Indonesia

Tiba di Bandara LAX Los Angeles: Awal Perjalanan di Amerika

2024-01-15 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →

Seumur hidup, aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di benua Amerika. Jadi, mumpung lagi libur, aku benar-benar ingin mengunjungi salah satu negara di sana. Akhirnya, aku memutuskan untuk liburan ke Amerika Serikat dan menumpang di rumah temanku yang tinggal di San Diego selama sekitar sebulan. Meskipun nilai tukar dolar saat ini sangat mencekik, bolak-balik di angka 1.330 won (sekitar Rp15.600), aku langsung tergiur dengan tawaran penginapan dan makan gratis. Untuk tiket pesawat, aku menggunakan mileage (poin penerbangan) sehingga hanya perlu membayar biaya bandara sekitar 400.000 won (sekitar Rp4.700.000). Bandara lain sama sekali tidak punya tiket mileage yang tersisa, tapi khusus untuk LAX (Bandara Internasional Los Angeles) tiketnya melimpah. Berkat itu, walaupun sedang bokek, aku bisa mempersiapkan perjalanan ini dengan sangat berhemat.

Dan tibalah hari keberangkatan yang dinanti-nanti.

Tampak belakang penumpang yang berjalan menuju gerbang keberangkatan Asiana Airlines tujuan Los Angeles
Pemandangan pesawat Asiana Airlines yang terhubung dengan garbarata terlihat dari balik jendela kaca terminal bandara

Aku memakai baju tipis berlapis-lapis dan entah bagaimana berhasil bertahan dari cuaca dingin sampai ke tempat pemberhentian bus bandara. Sesampainya di bandara, aku langsung berganti pakaian yang nyaman untuk tidur. Dengan celana training, bantal leher, dan sandal jepit tanpa kaus kaki, aku naik ke pesawat Asiana (maskapai Korea). Karena pesawatnya cukup luas, perjalananku terasa lumayan nyaman meskipun duduk di kursi tengah kelas ekonomi. Karena susah tidur, aku menonton film adaptasi komik 'Along with the Gods' dan menangis tersedu-sedu di pesawat. Tahu-tahu 10 jam sudah berlalu dan aku pun tiba.

Eskalator turun menuju ruang imigrasi Bandara Internasional Los Angeles dengan bendera Amerika dan tanda selamat datang yang tergantung

Melihat bendera Amerika menyambutku, aku langsung merasa sedang berada di Amerika. Aku juga makin sadar sedang berada di LA saat petugas bandara keturunan Latin memberondongku dengan bahasa Inggris tanpa pandang bulu, menginterogasiku selama sekitar 10 menit tentang kenapa aku menginap di rumah teman sampai sebulan. Sungguh negara yang indah, setara, dan tanpa diskriminasi, ya. Baru saja tiba, kepalaku sudah pusing dan rasanya ingin langsung naik pesawat lagi untuk pulang ke rumah.

Dengan energi yang sudah terkuras habis, aku pergi mengambil koper, dan masalah kedua pun muncul. Sepertinya ada masalah dengan conveyor belt bagasi karena mesinnya berhenti dengan suara berisik. Kalau di Korea, pasti dalam 1 menit petugasnya sudah lari datang untuk memperbaikinya, tapi di sini sudah 10 menit berlalu dan tidak ada satu pun yang menormalkannya kembali. Melihat orang-orang yang menunggu tampak pasrah dan hanya bermain HP, rasanya aku mau meledak saking kesalnya. Sebenarnya untuk apa sih mereka memungut pajak bandara 400.000 won itu?

Sabuk konveyor bagasi yang kosong dengan tulisan area pengambilan bagasi Asiana Airlines nomor 8

Sambil kembali menyadari betapa hebatnya Bandara Incheon dan kerja keras para stafnya, aku naik ke mobil temanku yang sudah menyetir selama 3 jam untuk menjemputku. Area depan bandara sangat kacau, bahkan lebih parah dari tempat parkir. Entah berapa biaya parkirnya, semua orang bergerak terburu-buru di depan bandara. Setelah bersusah payah memasukkan koper dan masuk ke mobil, tubuhku rasanya lemas. Katanya bandara adalah cermin dari suatu negara, dan tempat ini jelas berbeda dengan bandara-bandara di Asia yang megah dan penuh dengan pelayanan ramah. Bandara LA ini sangat lambat, sepertinya tidak ada perawatan sama sekali, dan sangat sulit menemukan petugas yang mengatur antrean untuk mengurai kemacetan. Untuk menenangkan hati yang lelah ini, ada satu tempat yang langsung kami tuju, yaitu "Starbucks".

Orang-orang yang menunggu di sekitar pilar luar terminal bandara yang memiliki tanda dilarang parkir

Kami pergi ke Starbucks di dekat LAX, tapi begitu sampai, aku langsung kaget karena disambut oleh para tunawisma (homeless). Meskipun ini bulan Januari, cuacanya sangat bagus dan pas untuk memakai baju musim gugur, khas California yang memang banyak tunawismanya. Aku sudah tahu soal ini dari cerita-cerita sebelum datang, tapi aku tidak menyangka mereka akan duduk makan dan bersantai di dalam Starbucks. Aku jadi bingung, apakah ini harus dianggap sebagai bentuk kesetaraan antara tunawisma dan orang biasa atau bagaimana.

Area di sekitar Bandara LAX adalah daerah rawan kejahatan. Mungkin karena bising, harga tanahnya jadi murah. Bisa dibilang mirip dengan area Stasiun Seoul, tapi bedanya, tunawisma di Amerika bisa masuk ke mana saja sesuka mereka. Kalau di Korea ada tunawisma yang duduk di Starbucks, polisi pasti sudah dipanggil, tapi di sini suasananya sama sekali tidak seperti itu. Baru sekitar 30 menit aku berada di Amerika, tapi dari yang kulihat, tempat ini benar-benar sangat berbeda dengan Korea.

Kira-kira aku bisa liburan di Amerika dengan lancar nggak ya...?

Tempat duduk dekat jendela di dalam kafe dengan papan buletin yang tertempel tulisan Welcome to LAX dan catatan-catatan kecil


#AwalLiburanAmerika #LiburanAmerikaDegDegan #BaruTibaSudahLelah #RasaKoreaDiStarbucks