Mama Donkatsu: Kedai Klasik di Korea University
Karena baru pertama kali bekerja dari rumah (WFH), aku memutuskan untuk makan siang di dekat rumah. Seperti yang sudah sering kubilang, area sekitar Korea University (Goryeodae) berbeda dari kampus lain yang punya banyak tempat makan enak di setiap sudutnya. Karena kebanyakan targetnya adalah mahasiswa, banyak restoran di sini yang bersaing dengan porsi besar dan harga murah. Makanya, ada banyak banget kedai tonkatsu (katsu babi) yang masuk kategori ini. Walaupun ada beberapa yang lumayan enak, hari ini aku mau mengenalkan sebuah kedai lokal klasik yang auranya seperti sudah berjualan sangat lama di tempat yang sepi pengunjung.
Mama Donkatsu, yang dikelola sendiri oleh seorang ibu (ajumma), bukanlah tempat yang menjual katsu instan, melainkan tonkatsu buatan tangan yang dagingnya dicincang sendiri. Kadang kalau aku pulang lewat jam 9 malam, aku sering melihat ibu itu sendirian memukul-mukul daging untuk membuat isian tonkatsu. Kedai ini dulunya adalah rumah tinggal yang dirombak. Begitu masuk, kamu akan langsung mencium aroma khas rumah tua. Aromanya agak apak dan jujur saja, bukan bau yang menyenangkan.



Baru saja mau kecewa karena bau apaknya, begitu melihat menu, aku langsung pasrah dan memesan. Sesuai ekspektasi kedai tonkatsu lokal, harganya sangat terjangkau. Kalau diperhatikan, harganya ditempel pakai stiker. Menurutku pribadi, dibandingkan dengan inflasi, kenaikan harga tonkatsu di sini terasa sangat lambat.
Karena akhir-akhir ini cuaca sangat panas, aku tidak memesan udon kesukaanku, melainkan momil (mi soba dingin). Jadi, menu makan siangku hari ini adalah "Set Tonkatsu Momil".





Walaupun aku menyebutnya tempat makan enak, ini bukan tipe kedai yang pantas dilabeli "paling enak se-Seoul" atau "terbaik di seluruh negeri". Tapi, tempat ini tetap masuk kategori "kedai tonkatsu yang pas buat makan siang". Pertama-tama, menu andalannya, yaitu tonkatsu, rasanya lumayan enak. Menu lainnya mungkin lebih terasa seperti makanan instan yang diracik ulang, tapi khusus untuk tonkatsu-nya, kualitasnya beda jauh dari kedai seharga sama yang biasanya menggoreng katsu sampai kering kerontang seperti bindaetteok (panekuk kacang hijau). Dengan kualitas seperti ini, rasanya tidak ada bedanya dengan kedai yang mematok harga mendekati 10.000 KRW. Untuk momil-nya, mungkin karena aku datang agak telat dan tempat ini jelas bukan tipe yang perputaran pelanggannya cepat, minya jadi bengkak dan lengket seperti kue beras (tteok). Tapi udon-nya benar-benar persis seperti udon yang dijual di rest area jalan tol, jadi kalau kamu suka rasa makanan yang merakyat, kamu pasti bisa menikmatinya. Oleh karena itu, aku sangat merekomendasikan untuk memilih udon pada set tonkatsu-nya.
Target utama kedai ini adalah mahasiswa Korea University atau orang-orang dari Seoul National University College of Education yang ada di depannya. Mungkin karena itu juga, si ibu menutup kedai dan istirahat pada jam 3–5 sore, serta tidak berjualan di hari Sabtu dan Minggu. Sepertinya beliau sekarang berjualan bukan untuk mencari untung besar, melainkan sekadar mempertahankan kedai sambil berjualan dengan santai. Intinya, meskipun ini kedai lokal, kamu harus mengecek jam operasionalnya dengan baik sebelum berkunjung.