slothis · Bahasa Indonesia

Review Jang Jin-young Ganjang Gejang di Hannam-dong

2026-08-12 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →
Papan informasi restoran Jang Jin-young Ganjang Gejang (kepiting marinasi kecap) yang berisi riwayat hidup dan penghargaan Chef Jang Jin-young

Saat masuk ke restoran, deretan penghargaan dan riwayat karir yang memenuhi dinding langsung menarik perhatian. Ada foto pemiliknya yang tampak penuh percaya diri dengan tulisan besar berbunyi, 'Saya Jang Jin-young, yang membranding makanan'. Melihat portofolionya yang padat, seperti penghargaan master makanan Korea dan hadiah utama dari kepala BPOM Korea, kita bisa merasakan kebanggaan yang luar biasa terhadap masakannya.

Bingkai kliping majalah yang memuat artikel wawancara dengan Chef Jang Jin-young

Di sebelahnya juga tertempel kliping artikel majalah yang membahas 24 tahun perjalanan karir memasaknya. Terlihat jelas bahwa beliau adalah sosok yang sudah lama mengasah keahlian di industri kuliner. Membacanya saja sudah membuat ekspektasi saya naik bahkan sebelum makanannya disajikan.

Plakat sertifikasi Master Makanan Korea milik Chef Jang Jin-young yang tergantung di dinding bata

Ditambah lagi, ada plakat master makanan Korea yang mengkilap. Melihat gelar master atau penghargaan semacam ini membuat saya langsung berpikir bahwa makanan yang disajikan pasti sangat mewah.

Alas kertas meja makan yang dicetak dengan gambar kepiting dan logo Jang Jin-young Ganjang Gejang

Saat duduk di meja, ada alas kertas bergambar kepiting lucu yang sudah disiapkan. Dulu saya dengar tempat ini punya harga yang cukup bersaing, tapi setelah datang langsung, sepertinya keunggulan harga itu sudah banyak berkurang. Harganya mirip-mirip dengan restoran ganjang gejang (kepiting marinasi kecap asin) terkenal lainnya, jadi harga menu ini memang selalu terasa bikin merinding.

Meja makan yang ditata dengan ganjang gejang (kepiting marinasi kecap) di tengah, beserta nasi, sup, dan berbagai lauk pauk

Satu set ganjang gejang yang saya pesan akhirnya dihidangkan. Kepiting yang penuh dengan telur berwarna oranye dan saeujang (udang marinasi kecap) disajikan di piring lebar, ditemani beberapa potong suyuk (daging babi rebus) iris tipis, lauk sayuran, kimchi, dan sup rumput laut. Nasinya juga diberikan dalam porsi besar, lengkap dengan sungnyung (air kerak nasi). Melihat cangkang kepitingnya bikin saya ingin cepat-cepat mencampur nasi ke dalamnya.

Untuk rasa ganjang gejang-nya yang paling penting, ternyata tidak seasin yang saya kira. Awalnya saya sudah bersiap menyendok banyak nasi kalau-kalau rasa asinnya menyerang seperti air terjun, tapi bumbunya ternyata sangat pas untuk dimakan bersama nasi. Ganjang gejang sendiri memang makanan yang rasanya bisa sangat disukai atau dibenci, jadi saya agak berhati-hati menilainya. Tapi untuk level ini, rasanya cukup umum dan aman untuk dicoba oleh turis asing.

Sayangnya, suyuk dan lauk pauk pendamping lainnya terasa biasa saja. Daripada mencicipi ini dan itu, lebih baik fokus saja pada hidangan utamanya yaitu ganjang gejang.

Suasana dan pelayanan restorannya juga lebih terasa seperti rumah makan biasa pada umumnya, bukan tempat yang mewah. Saya sarankan datang ke sini dengan niat untuk makan dengan santai, bukan mengharapkan pelayanan yang luar biasa istimewa.

Kalau kamu mencari restoran legendaris di daerah Itaewon (distrik populer di Seoul), kamu bisa mencoba Nari's House yang terkenal dengan naengsam (perut babi beku).