slothis · Bahasa Indonesia

Review Quynh Chau Homestay di Hoi An

2018-11-28 · Diperbarui: 2026-08-11 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →

Eksterior dan papan nama bangunan Queen Chau Homestay yang menyala di malam hari

Akhirnya matahari di hari pertama liburan bersinar, dan aku yang pemalas ini bangun kesiangan. Entah kapan terakhir kali aku rajin sarapan di hotel, biasanya aku selalu bermalas-malasan saat liburan, tapi kali ini berbeda. Teman seperjalananku ini tipe orang yang wajib sarapan, jadi begitu buka mata dia langsung bilang "Ayo makan", memaksaku berhenti bermalas-malasan dan ikut makan dengan setengah terpaksa.

Soal sarapan ini akan kubahas nanti, sekarang mari kita bahas Quynh Chau Homestay, tempat pertama yang kulihat di Vietnam selain bandara. Karena aku menyerahkan urusan penginapan sepenuhnya pada temanku, aku bahkan tidak tahu kami akan menginap di mana sampai kami tiba. Setelah tiba dan mencari tahu, ternyata ini homestay yang lumayan terkenal. Skornya di Booking.com tinggi, dan ulasan dari orang Korea yang terkenal cerewet pun cukup bagus. Karena ini homestay, aku tidak terlalu berharap banyak, tapi selain tidak ada kolam renang, fasilitas shower yang sedikit kurang, dan tidak ada lift, aku sangat puas. Sejujurnya tidak ada lift itu lumayan fatal sih, tapi hal yang paling memuaskan dan menjadi nilai plus adalah keramahan ibu pemilik yang selalu berusaha memberi kami makan sebelum kami pergi keluar. Sebagai tambahan, mereka juga menyediakan layanan mobil ke bandara Da Nang dan hotel-hotel di Da Nang dengan tarif sekitar 15 USD sekali jalan. (Sejujurnya aku tidak tahu apakah mereka mengelolanya sendiri atau lewat agen.)

Bagian dalam kamar dengan dua tempat tidur ganda
Pemandangan lingkungan dengan kumpulan rumah beratap merah dan berdinding putih di bawah langit berawan
Kamar seperti ini harganya tidak sampai 30.000 KRW per malam. Walaupun orang yang sering liburan ke Asia Tenggara mungkin akan bingung dan berpikir 'Terus kenapa?'.
Bingkai penghargaan Guest Review Award 2017 Booking.com dengan skor 9,6 yang tergantung di dinding
Di kawasan Asia Tenggara yang sering dikunjungi orang Korea, pasti tidak mudah bagi ibu pemilik yang kurang lancar berbahasa Inggris ini untuk mendapatkan skor setinggi ini.
Pemandangan ke luar dari dalam restoran yang memiliki kap lampu rotan
Orang-orang yang duduk di meja teras luar ruangan dan pot-pot tanaman di sekitarnya
Beberapa lampu berbentuk topi caping bambu yang tergantung di langit-langit

Desain interior ruang makan di lobi tidak kalah jika dibandingkan dengan hotel mana pun. Lampion cantik khas Hoi An digantung sebagai aksen yang tidak berlebihan, dan sekitarnya dihias dengan sangat indah menggunakan tanaman yang mereka rawat sendiri. Siang hari di Hoi An tidak banyak yang bisa dilihat, jadi kalau menginap lama di sini, sepertinya aku akan menghabiskan waktu siang dengan bersantai minum dan membaca buku ringan di lobi yang ditata dengan penuh dedikasi ini.

Sandwich baguette berisi daging dan sayuran di atas piring beserta sebuah minuman
Sandwich baguette berisi daging dan sayuran di atas piring

Bukan cuma ruang makannya yang cantik, makanannya juga lumayan enak. Melanjutkan cerita soal sarapan yang sempat kutunda tadi, sistem di sini adalah kita memesan makanan yang kita inginkan. Kami sebenarnya bisa makan dua porsi, tapi karena aku malas, aku cuma mencoba banh mi (sandwich khas Vietnam). Kalau hanya menilai banh mi yang kumakan ini, rasanya tentu masih di bawah banh mi dari Banh Mi Phuong. Tapi bukan berarti rasanya tidak enak sampai tidak bisa dimakan, malah rasanya lumayan oke. Mungkin inilah rasa banh mi ala rumahan Vietnam yang sebenarnya. Mungkin karena mereka tidak menggunakan rempah yang terlalu kuat untuk memikat tamu, aku bisa merasakan nuansa masakan rumahan hanya dari sebuah sandwich.

Satu saran dariku, saat makan banh mi di Vietnam, sebaiknya kalian wajib menambahkan daun ketumbar (cilantro). Banh mi tidak berisi banyak sayuran, jadi daun ketumbar diperlukan untuk menyeimbangkan rasa eneknya. Saat aku menyingkirkan daun ketumbarnya, sandwich itu terasa hambar dan hanya menyisakan rasa bumbu dagingnya saja. Ajaibnya, aroma daun ketumbar di Vietnam tidak sekuat di Thailand atau Malaysia dan masih sangat bisa dinikmati, jadi aku sarankan kalian untuk mencobanya.



#PenginapanHoiAn #HomestayHoiAn