Buamdong Tonkatsu 1979: Kuliner Pesepeda di Bugak, Seoul
Di Seoul, ada dua tempat yang menjadi "kiblat" bagi para pesepeda, yaitu Namsan dan Bugak. Saking populernya, gabungan keduanya sering disebut "Nambuk", rute favorit bagi pemula hingga mereka yang gila sepeda. Jalan dari Namsan menuju Bugak memang jalan umum yang dilewati mobil dan bus sehingga agak berbahaya, tapi ini adalah rute tanjakan ringan yang sangat pas untuk dijajal di Seoul.
Bugak (Gunung Bugak) sangat terkenal dengan pemandangan Gunung Inwangsan dan panorama terbuka yang bisa dinikmati dari Palgakjeong (paviliun segi delapan) di puncaknya. Berkat pemandangan indah ini, yang datang bukan cuma pesepeda, tapi juga banyak pengendara motor dan orang-orang yang pacaran naik mobil. Saat musim panas, kadang ada rombongan siswa dari luar kota yang datang untuk study tour.


Setelah puas bersepeda dan basah kuyup oleh keringat, ada beberapa tempat makan enak di pintu masuk Bugak: Gyeyeolsa (restoran ayam goreng), Jaha Sonmandoo (kedai pangsit), dan Buamdong Tonkatsu yang didirikan oleh Gyeyeolsa beberapa tahun lalu. Wah, Gyeyeolsa sekarang jadi franchise ya? Gyeyeolsa sendiri adalah tempat yang sangat terkenal, jadi selalu ada antrean. Mereka buka jam 12 siang, dan kadang-kadang pas tidak ada pelanggan sama sekali. Kalau kebetulan sepi, makan ayam goreng Gyeyeolsa yang gurih bisa jadi pilihan tepat. Tapi, kalau selama hari kerja kamu cuma bertahan hidup dengan sandwich dan roti, lalu ingin makan nasi dengan kuah hangat, sebaiknya nikmati semangkuk sup pangsit di Jaha Sonmandoo sebelum pulang.
Kalau diceritakan begini, Buamdong Tonkatsu mungkin cuma terasa seperti "tempat makan di sebelah restoran terkenal". Tapi, tempat ini patut diapresiasi karena berhasil menambah pilihan dari yang awalnya "ke Bugak berarti makan di Gyeyeolsa" menjadi "tonkatsu di sana juga enak, lho". Secara pribadi, menurutku dagingnya lebih empuk dan lebih enak daripada Namsan Tonkatsu. Sepertinya orang-orang dari Gyeyeolsa memang ahlinya dalam urusan goreng-menggoreng.
Aku sangat merekomendasikan Buamdong Tonkatsu kalau kamu sedang bersepeda membawa pemula. Bagi pesepeda pro, keliling Bugak beberapa putaran sih biasa, tapi buat pemula yang cuma ikut-ikutan tanpa tahu apa itu tanjakan, rute Bugak sama sekali tidak mudah. Begitu turun, mereka biasanya terlihat lemas seperti mau pingsan. Nah, di saat seperti inilah tonkatsu ini jadi penyelamat. Harganya murah dan porsinya melimpah, sangat cocok untuk mengisi kembali glikogen yang terkuras supaya bisa gowes pelan-pelan sampai ke rumah. Jangan makan sebelum naik karena bisa-bisa kamu muntah. Seberat apa pun, lebih baik capai puncaknya dulu, makan es krim Dippin' Dots, lalu turun pelan-pelan dan baru makan tonkatsu.

Aku pernah nonton episode tonkatsu di acara TV "Baek Jong-won's National Food", dan di situ ada penjelasan tentang Wang Tonkatsu (tonkatsu porsi jumbo). Di episode itu, ada adegan Kyuhyun makan Wang Tonkatsu dan Baek Jong-won mengajaknya makan di restoran bergaya gyeongyangsik (makanan Barat ala Korea) zaman dulu. Nah, Buamdong Tonkatsu ini ibarat gabungan antara Wang Tonkatsu dengan nuansa gyeongyangsik jadul itu. Suasana restorannya sengaja dibuat sedikit antik, dan makanan yang disajikan juga membangkitkan nostalgia masa lalu.
Rasa tonkatsunya luar biasa enak. Tepung panir dan dagingnya menyatu dengan baik, dagingnya tidak seret, dan tepungnya juga tidak keras seperti menggigit batu. Rasanya benar-benar seperti sedang disuguhi tonkatsu premium yang mewah. Tepungnya memang enak, tapi menurutku dagingnya yang empuk itu jauh lebih menggoda. Sausnya terasa sedikit lebih asin dibanding tempat lain, jadi bikin kita ingin nambah nasi terus. Nasi dan lauk pauknya bisa diambil sendiri sepuasnya (self-service), jadi silakan makan sampai kenyang.




Kamu bisa memarkir sepeda di area restoran yang bentuknya agak menurun seperti semibasemen ini. Entah karena saking banyaknya pesepeda yang mampir atau bukan, mereka memberikan servis gratis berupa satu kaleng kecil Cola atau Sprite—minuman favorit para pesepeda. Walaupun kecil, rasanya benar-benar seperti hadiah yang manis banget buat para rider. Aku tidak tahu apakah pemilik dan stafnya memang sengaja merencanakan ini, tapi perhatian-perhatian kecil semacam inilah yang bikin kita ingin mampir ke sini setelah turun dari Bugak. Satu-satunya kekurangan cuma satu: setelah mampir ke sini, badan jadi terlalu berat sehingga rasanya malas untuk gowes pulang ke rumah.