slothis · Bahasa Indonesia

Hanjjak Sangsu: Iga Sapi Hanwoo Enak & Terjangkau

2019-12-25 · Diperbarui: 2026-08-11 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →

Karena sedang Natal, kami mengadakan kumpul keluarga. Sempat bingung mau pergi ke tempat bagus mana, tapi karena pada sepakat jangan pergi terlalu jauh, kami akhirnya mengunjungi Hanjjak yang ada di pinggir jalan besar. Nama Hanjjak diambil dari singkatan 'Hanwoo Jjakgalbi' (iga sapi Korea), dan mereka hanya punya satu menu utama untuk dipanggang. Tidak perlu pusing memilih antara tenderloin atau sirloin, cukup pikirkan mau pesan berapa porsi galbisal (daging iga).

Kami juga memesan yukhoe (daging sapi mentah bumbu), satu doenjang-jjigae (sup pasta kedelai), dan belakangan tambah naengmyeon (mi dingin). Ternyata kami memesan hampir semua yang ada di menu, kecuali telur kukus. Dagingnya bagus dan masakan lainnya juga enak, ini salah satu dari sedikit restoran di mana semua menunya memuaskan.

 

Seorang pegawai memotong daging di atas talenan di dalam restoran
Begitu masuk, pemandangan ini yang akan terlihat
Papan menu kayu yang bertuliskan menu dan harga seperti Hanu Galbisal (iga sapi Korea) dan Hanu Yukhoe (daging sapi mentah Korea)
Sepertinya porsinya dibuat 110g agar harganya pas 15.000 KRW. Harga 13.500 KRW per 100g sedikit lebih mahal dibandingkan restoran daging biasa
Panggangan berwarna tembaga yang diletakkan di atas arang
Pertama-tama, arangnya adalah arang kayu ek asli. Untuk harga segini, arang yang disajikan sangat bagus
Meja dengan beberapa potong daging di atas panggangan arang dan dikelilingi oleh lauk pauk (banchan)
Nampan perak penuh dengan iga sapi berbumbu yang ditaburi daun bawang dan bawang putih
Potongan iga sapi berbumbu yang mulai dipanggang di atas panggangan arang
Potongan iga sapi yang dipanggang hingga kecokelatan di atas panggangan arang
Yukhoe (daging sapi mentah berbumbu) dan irisan pir yang disajikan di dalam mangkuk baja tahan karat
Yukhoe yang sudah dipindahkan ke piring kecil. Entah kenapa warna semua fotonya jadi aneh
Sepotong daging panggang yang dijepit dengan sumpit dan salad daun bawang di bawahnya

Karena ini iga berbumbu, saya kira aroma bumbunya akan sangat menyengat, tapi ternyata hampir tidak tercium. Bumbunya pas hanya untuk menghilangkan bau amis daging mentahnya. Rasanya saya pernah makan yang mirip seperti ini di suatu tempat, tapi saya lupa di mana. Sepertinya di Budnamujip, tapi selisih harganya hampir dua kali lipat. Saat makan yukhoe-nya pun terasa sangat segar. Beberapa hari yang lalu saya makan yukhoe di Seocho-dong (distrik di Seoul), dan meskipun saat itu sudah larut malam, dagingnya bau amis sampai saya khawatir bakal sakit perut. Tapi yukhoe yang saya makan hari ini rasanya sangat bersih. Di Hannam-dong, doenjang-jjigae dengan gaya serupa dijual seharga 10.000 KRW, tapi di sini dijual dengan harga menu sampingan yang murah. Kalau naengmyeon-nya ya standar mi dingin biasa.

Tidak ada interior yang spesial, tapi hanya dengan daging dan doenjang-jjigae-nya saja, tempat ini sudah sangat bagus. Kekurangannya mungkin cuma tidak ada tempat parkir, jadi mobil harus diparkir di pinggir jalan besar.

 

Jendela kaca besar dan bagian dalam restoran yang terlihat dari luar pada malam hari
Meja yang jumlahnya tak sampai 10 ini biasanya selalu penuh sampai harus antre. Kalau musim panas, mereka juga buka meja di jalanan.
#Hanwoo #KulinerSeongsu #Galbisal #HanwooSeongsu #MakanMalamSeongsu #KencanSeongsu