Yeokjeon Hoekwan Seoul: Bulgogi Panggang Michelin
Saya janjian bertemu teman di Gongdeok (sebuah kawasan di Seoul) dan bingung mau pergi ke mana. Kalau jalan-jalan di sekitar Gongdeok, rasanya ada banyak sekali tempat makan enak. Restoran trendi yang baru buka dan kedai tua tradisional berbaur menjadi satu, jadi pilihan kulinernya benar-benar beragam.
Menurut pendapat pribadi saya, kalau saja Gongdeok punya lebih banyak toko baju atau pernak-pernik seperti di Apgujeong atau Hongdae, kawasan ini bisa jadi sepopuler Seongsu. Terlepas dari itu, hari ini saya sedang ingin makan lauk daging yang benar-benar enak, jadi kami pergi ke Yeokjeon Hoekwan cabang utama Mapo, restoran yang masuk daftar Michelin.

Melewati gang, kami tiba di depan gedung Yeokjeon Hoekwan. Dari luar, tempatnya terlihat rapi namun tetap memancarkan aura restoran tua yang legendaris. Di sebelah pintu masuk, ada papan promosi besar bertuliskan 'Terpilih sebagai Bib Gourmand Michelin Guide Seoul 10 Tahun Berturut-turut' yang langsung menarik perhatian.
Di bawah papan nama, terlihat tulisan bahwa tempat ini terpilih sebagai salah satu dari 100 restoran terbaik nasional. Katanya restoran Korea ini sudah berdiri sejak tahun 1962 dan diteruskan hingga generasi keempat, jadi sejarahnya lumayan panjang. Melihat langkah para pekerja kantoran yang tak henti-hentinya masuk ke dalam, sepertinya ini memang restoran favorit warga lokal.

Begitu masuk ke dalam, deretan plakat Michelin Guide di dekat pintu masuk sebelah kasir langsung menyita perhatian saya. Melihat plakat merah yang dipajang berurutan dari tahun 2022 hingga yang terbaru tahun 2026, sepertinya restoran ini sangat konsisten menjaga cita rasanya.
Di partisi atasnya, terdapat kliping koran jadul yang menunjukkan sejarah restoran dan foto-foto hitam putih para pemilik terdahulu yang dipajang dalam bingkai. Saya sempat sedikit khawatir, apakah lidah saya bisa benar-benar mengapresiasi rasa mendalam dari restoran Michelin bersejarah ini.

Dinding di area tangga menuju ruang makan dipenuhi dengan bingkai berisi tanda tangan para selebritas tanpa ada celah kosong. Layaknya restoran tua yang terkenal, melihat jejak banyaknya artis dan tokoh penting yang pernah berkunjung membuat saya sadar betapa larisnya tempat ini.
Teman saya bilang dia sering ke sini karena kantornya dekat, dan dari raut wajahnya dia sangat menantikan makanan yang katanya sangat enak ini. Lampu-lampu kecil di depan toilet dan dekorasi interiornya juga menonjolkan suasana tradisional, jadi menurut saya tempat ini sangat cocok untuk membawa orang tua makan bersama.

Setelah duduk dan memesan set menu bulgogi, tak lama kemudian hidangan utamanya, yaitu Bassak Bulgogi (bulgogi panggang kering), disajikan di atas piring lebar. Wah, begitu diletakkan di meja, aroma gurih dari panggangan arang langsung menusuk hidung.
Biasanya, kalau bicara soal bulgogi khas Seoul, yang terbayang adalah daging berkuah yang mendidih di dalam mangkuk tanah liat atau panci jeongol (panci hot pot). Tapi, bulgogi di restoran ini berbeda. Sesuai dengan namanya, dagingnya dipanggang kering tanpa kuah sama sekali, sehingga bentuknya sangat unik.
Saat saya mencicipinya bersama daun bawang, bumbu dagingnya terasa manis dan luar biasa enak. Meskipun dipanggang sampai kering, ajaibnya tekstur dagingnya tetap empuk saat dikunyah. Dulu saya pernah makan daging sapi di Bugakjeong yang juga sangat lembut dan enak, tapi Bassak Bulgogi di sini tak kalah hebat dengan tekstur yang benar-benar memanjakan lidah.

Karena dagingnya bergaya kering dan gurih, peran lauk pendamping jadi sangat penting. Mungkin karena ini menu set, lauk pauk yang disajikan di meja cukup beragam dan tertata rapi. Ada salad, musaengchae (selada lobak pedas), kongjaban (kedelai hitam manis), namul (sayuran berbumbu), sayuran untuk membungkus daging, hingga sup tauge dingin yang menyegarkan; meja penuh dengan lauk yang pas untuk dimakan bersama nasi. Di antara semuanya, yang paling enak menurut saya adalah aneka kimchinya, seperti kimchi kubis dan kimchi putih. Rasa kimchi yang segar menyeimbangkan rasa daging yang gurih, membuat saya terus menyantap lauknya sama seperti hidangan utamanya. Memang benar, restoran yang enak pasti lauk pendampingnya juga seenak hidangan utamanya.
Setelah selesai makan, rasanya memang benar-benar luar biasa, meskipun harga Bassak Bulgogi-nya terasa agak mahal. Namun, mengingat komposisi lauknya yang rapi dan cita rasa dagingnya yang khas, ini adalah tempat yang pasti ingin saya kunjungi lagi.