slothis · Bahasa Indonesia

Omakase Jepang Murah di Maru Sejong, Cuma 20 Ribu Won!

2024-11-14 · Diperbarui: 2026-08-11 · Asli (bahasa Korea)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Korea dengan bantuan AI. Baca tulisan asli bahasa Korea →
Aku kebetulan ada urusan di Sejong (kota di Korea Selatan) dan harus makan malam di sana. Temanku yang tinggal di sana mengajakku makan omakase. Harga omakase biasanya lumayan mahal, jadi awalnya aku pikir dia sudah gila karena tidak dapat apa-apa di Pepero Day (hari kasih sayang Korea). Tapi setelah dengar harganya cuma 20.000 won (sekitar Rp 240.000) per orang, aku langsung paham kenapa dia mengajakku ke sini.

Pesan antar tteokbokki (kue beras pedas) di Seoul saja harganya sekitar 15.000 won (sekitar Rp 180.000), jadi rasanya sulit dipercaya ada omakase Jepang seharga 20.000 won. Walaupun rasanya tidak enak, tempat ini pasti sudah terkenal sebagai "omakase 20 ribu won", tapi ternyata rasanya pun enak.

Teras luar dan pintu masuk restoran Jepang dengan papan nama bertuliskan Maru.

Bagian depan restorannya juga mungil dan cantik
Menu yang berisi daftar makanan seperti Unadon (nasi belut), Kaisendon (nasi boga bahari), Sakedon (nasi salmon), dan berbagai jenis sake.
Omakase sashimi 20.000 won
Menu minuman yang mencantumkan harga anggur, minuman keras lokal, bir, dan highball.
Papan petunjuk yang berisi cara menikmati Unadon, Kaisendon, dan Sakedon dengan lezat.
Sepertinya menu utamanya adalah unadon (nasi belut)
Botol sake Kubota Senju dan piring lauk berisi rakkyo (acar bawang) dan salad batang rumput laut.
Harga soju (minuman beralkohol Korea) di sini lumayan mahal dibanding tempat lain, yaitu 7.000 won (sekitar Rp 80.000). Tapi karena harga makanannya sangat murah, menurutku wajar saja mereka mematok harga minuman segitu. Aku sempat penasaran apakah makanannya akan berbeda tergantung minuman yang dipesan, jadi aku pesan Kubota Senju (sake Jepang). Harga omakasenya memang 20.000 won, tapi syaratnya setiap orang harus pesan satu botol minuman. Tentu saja ini standar untuk soju, kalau pesan Kubota sih bebas hambatan.
Berbagai hidangan laut seperti udang, abalon, tiram, dan nanas laut yang disajikan di atas piring.
Tiramnya sangat segar, apalagi memang sudah mendekati musimnya. Abalonnya juga tidak dikukus sembarangan, tapi dikukus dengan pas sehingga teksturnya empuk saat dikunyah.
Piring segi enam berwarna putih yang berisi danmuji (acar lobak kuning) dan irisan lobak tipis.
Seorang koki berdiri di balik meja bar dengan mangkuk berisi sashimi dan botol sake di depannya.
Berbagai jenis sashimi, kecambah lobak, dan wasabi disajikan dalam mangkuk bundar berwarna hitam.Siapa yang bakal menyangka ini harganya 20.000 won? Sashiminya bukan potongan kasar ala pasar ikan, tapi diiris dengan sangat rapi sehingga gampang dikunyah tanpa ada yang mengganjal di mulut. Ikan sebelah (halibut), ikan air tawar (sea bream), dan belanak adalah menu dasarnya, dan makan ini saja sudah bikin kenyang. Aku tidak tahu apakah jenis sashiminya berubah tergantung musim, tapi semakin aku makan, aku semakin penasaran kenapa mereka menjualnya seharga 20.000 won.
Sepotong ikan panggang disajikan di atas selada pada piring segi enam berwarna putih.
Ikan mero panggang (Patagonian toothfish)
Sashimi ikan berwarna merah dan yukhoe (sashimi daging sapi) disajikan dengan rapi dalam mangkuk bundar berwarna hitam.Aku kira setelah sashimi biasa keluar, hidangannya sudah selesai, eh ternyata sashimi tuna juga disajikan. Aku mulai khawatir sekaligus ragu apakah restoran ini bisa bertahan lama dengan sistem seperti ini. Terlepas dari kualitas potongannya, fakta bahwa mereka menyajikan tuna saja sudah sangat mengejutkan.
Sup bening dengan kerang hijau, daun bawang, dan cabai disajikan dalam mangkuk berwarna cokelat.
Sup kerang hijau (honghap-tang)
Mangkuk putih berisi mi udon, kuah, taburan rumput laut, daun bawang, dan remahan tempura.
Udon, yang benar-benar menjadi hidangan penutup
Bagian dalam restoran dengan interior bernuansa gelap yang dilengkapi meja dan kursi kayu.
Sebenarnya apa alasan mereka menjualnya semurah ini? Apa ini cuma promo pembukaan? Benar-benar banyak hal yang terlintas di pikiranku. Kalau mereka memotong sashiminya asal-asalan seperti di pasar ikan mungkin aku masih paham, tapi mereka benar-benar mengirisnya satu per satu dengan teliti, jadi setiap potongannya terasa enak dan mulus saat ditelan. Katanya kalau kita menulis ulasan di Naver (portal web Korea), kita bisa dapat segelas house wine. Aku jadi bingung apa mereka masih dapat untung.

Sayang sekali restoran Jepang seperti ini tidak ada di Seoul.